ASPEK KELESTARIAN

 

Rencana Pengelolaan Hutan Lestari Terpadu (ISFMP)

PT Riau Abadi Lestari sebagai bagian dari Asia Pulp dan Paper (APP) group dan menyatakan berkomitmen untuk mendukung serta melaksanakan ketentuan yang diberlakukan oleh APP dalam sustainability roadmap. PT Riau Abadi Lestari telah melaksanakan moratorium penebangan hutan alam sejak 31 Januari 2013. Pada prosesnya PT Riau Abadi Lestari telah melakukan beberapa studi untuk dasar perbaikan pengelolaan hutan, yaitu:

1. Identifikasi kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi (HCV).

Kawasanbernilai konservasi tinggi adalah kawasan yang memiliki satu atau lebih Nilai KonservasiTinggi (NKT) dengan ciri-ciri mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang penting,bentang alam yang penting bagi dinamika ekologi secara alami, mempunyai ekosistemlangka atau terancam punah, menyediakan jasa-jasa lingkungan alami, mempunyaifungsi penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat lokal dan fungsi pentinguntuk identitas budaya tradisional komunitas lokal.

2. Identifikasi areal dengan stok karbon tinggi (HCS).

Studi stok karbon tinggiadalah untuk mengetahui atau membedakan areal berhutan dan/atau areal yang masihmempunyai potensi untuk berkembang sehingga bisa menjalankan fungsi ekologinyadengan area yang terdegradasi dan/atau stok karbon rendah, sehingga berpotensi untukdikembangkan sebagai hutan tanaman.

3. Identifikasi konflik lahan.

Hasil pemetaan konflik yang dilakukan dengan mengidentifikasi kepemilikan tanah serta hak-hak yang terdapat di dalamnya (customaryrights), dapat memberikan gambaran kondisi masyarakat yang berada di dalam dan disekitar konsesi. Seperti informasi keberadaan desa yang ada sebelum atau setelahadanya konsesi, ada tidaknya tanah ulayat, pemenuhan livelihood lokal, adanya jual belilahan di dalam konsesi dan jenis konflik lainnya. Dengan hasil pemetaan tersebut,perusahaan dapat menempatkan diri dalam pemilihan kebijakan dalam menyelesaikansuatu konflik dan perusahaan dapat menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat.

4. Studi growth and yield.

Studi growth and yield membantu perusahaan dalammengetahui kondisi kesuburan tanah dan potensi kayu, sehingga perusahaan bisamengambil tindakan dalam meningkatkan produktivitas lahan.

5.  Studi lahan gambut.

Studi lahan gambut diperlukan dalam perancangan jaringankanal (sebaran, dimensi dan spesifikasi lainnya) serta dalam melakukan manajemen airyang cocok bagi transportasi dan pertumbuhan tanaman.

 

PT Riau Abadi Lestari menyadari bahwa seluruh proses tersebut merupakan sebuah

langkah yang penting dalam pengelolaan hutan berkelanjutan secara ekonomi, ekologi dansosial. Dalam rangka melakukan upaya perbaikan dalam pengelolaan hutan secaraberkelanjutan PT Riau Abadi Lestari menyusun dokumen perencanaan yang memadukanaspek ekonomi, ekologi dan sosial; yang pengelolaannya disesuaikan dengan skala danintensitas pengelolaan sumber daya. Rencana pengelolaan dimaksud berupa rencana kerjajangka panjang dan rencana kerja jangka pendek, yang menjangkau unit pengelolaanterkecil dan terintegrasi. Dokumen perencanaan tersebut berupa Integrated SustainableForest Management Plan (ISFMP). Lingkup waktu ISFMP adalah 5 (lima) tahun kedepan (periode 2016 – 2020), dengan didasarkan pada hasil evaluasi kegiatan 5 (lima)tahun ke belakang (periode 2011 – 2015).

 

Kelola Produksi

Rencana kelola produksi berdasarkan rencana RKT tahunan PT. Riau Abadi Lestari dengan periode waktu pada bulan Januari - Desember. Berikut disajikan rencana kelola aspek produksi untuk tahun 2018.

Rencana Kerja Tahun 2018

PT. Riau Abadi Lestari

Parameter

Rencana

Tanam (Ha)

510,16

Tebang (Ha)

499,45

Produksi (M3)

53.798,42

Survey Permanen Sample Plot (PSP) 

 

a. Jumlah Plot

28

b. Luas (Ha)

91.9

Survey Pre Harvesting Inventory (PHI) 

 

a. Jumlah Plot

122

b. Luas (Ha)

305

 

a. Perencanaan

Sebagai dasar kegiatan operasional, PT. RAL telah menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (RKUPHHK-HT). RKUPHHK ini menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) perusahaan. RKT selanjutnya menjadi dasar legal di dalam melaksanakan seluruh kegiatan operasional hutan tanaman.

 

b. Tata Ruang Konsesi

Tata ruang di HTI diharapkan dapat memenuhi keseimbangan ekosistem hutan dan dapat mengakomodir kepentingan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Dokumen RKUPHHK-HTI ini terdapat perubahan tata ruang hutan tanaman. Pada RKUPHHK-HTI ini terdapat perubahan tata ruang hutan tanaman.Perubahan tata ruang mengacu padaPeraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.12/Menlhk-II/2015 tanggal 24 Maret 2015 jo. P.17/Menlhk/Setjen/Kum.1/2/2017, tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri.

 

c. Pengadaan Bibit

Untuk memenuhi kebutuhan bibit bekerjasama dengan PT. Arara Abadi, kerjasama ini dilakukan karena lebih efektif dan efesien, sehubungan areal kerja PT. Riau Abadi Lestari berada didalam/berbatasan dengan areal kerja PT. Arara Abadi dan PT. Arara Abadi sudah membangun persemaian permanen yang dekat dengan areal PT. Riau Abadi Lestari.

 

d. Penyiapan Lahan

Kegiatan penyiapan lahan mempunyai dua tujuan, yaitu untuk mempersiapkan lahan yang akan ditanami agar bersih dari pohon dan/atau tanaman pengganggu. Kegiatan awal penyiapan lahan berupa pembersihan lahan dari pohon, semak belukar, gulma, dan vegetasi lainnya yang tumbuh di areal tanaman. Kegiatan penyiapan lahan HTI PT. RAL menerapkan prinsip Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

 

e. Penanaman

Kegiatan penanaman di areal HTI PT. RALdilakukan setelah kegiatan penyiapan lahan selesai dan dinilai layak untuk diteruskan dengan kegiatan penanaman. Penanaman dimungkinkan dilakukan sepanjang tahun karena kondisi curah hujan yang sesuai. Pelaksanaan kegiatan penanaman dimonitor melalui kegiatan Plantation Process Asessment (PPA) agar kegiatan berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Selain itu untuk melihat keberhasilan tanaman dilakukan pula Plantation Assessment oleh Plantation Asessment Team (PAT) yang menilai standar stocking, spacing, dan weed free. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 3, 6 dan 12 bulan.

Penanaman tanaman pokok dilakukan dengan jarak tanam sekitar 3 x 2,5 m untuk jenis Akasia dan jarak 3 x 2 m.

 

f. Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan pemeliharaan tanaman mengacu pada Standard Operating Procedure meliputi kegiatan pemupukan, penyulaman, pemangkasan cabang (singling), dan penyiangan (weeding). Jadwal pelaksanaan pemeliharaan tanaman (luas dan waktunya) mengikuti jadwal penanaman dan jadwal teknis silvikultur HTI.

 

g. Monitoring dan Evaluasi Produksi 2017

Upaya monitoring kegiatan perusahaan dilakukan dengan membuat pelaporan maupun dokumentasi agar apa yang dilakukan dapat terekam dengan baik. Sehingga kineja perusahaan menjadi terkontrol dengan baik pula. Adapun monitoring dan evaluasi dilakukan pada masing-masing aspek.

 

Tabel Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Produksi Tahun 2017

No

Parameter

Rencana

Realisasi

Persentase

1

Tanam (Ha)

671,00

437,40

65,19

2

Tebang (Ha)

635,20

614,30

96,71

3

Produksi (M3)

78.813,00

66.133,87

83,91

4

Survey Permanen Sample Plot (PSP) 

a. Jumlah Plot

69

66

100

b. Luas (Ha)

289.1

276.1

95,50

5

Survey Pre Harvesting Inventory (PHI) 

a. Jumlah Plot

20

20

100

b. Luas (Ha)

50.3

50.3

100

 

Kelola Lingkungan

Dasar kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan PT. RAL yaitu berdasarkan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dan Dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Pusat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Departemen Kehutanan No. 119/DJ-VI/AMDAL/1996 pada tanggal 25 Juni 1996.

a. Pengelolaan Kawasan Lindung

Kawasan lindung yang terdapat di areal PT. RAL yaitu berupa kawasan lindung Sempadan Sungai Prapakan (Unit Sindotim), Sempadan Sungai Mandiangin (Unit Mandiangin), Daerah Perlindungan Satwa Liar (Unit Tasik Serai) untuk kawasan DPSL saat ini sudah berubah fungsi menjadi areal klaim dan ditanam tanaman sawit oleh masyarakat.

 

b. Pengelolaan dan Pemantauan Flora dan Fauna

Pada areal kawasan lindung terdapat sejumlah jenis vegetasi dan satwa yang tersebar di sekitar areal hutan diatara vegetasi dan satwa tersebut teridentifikasi jenis tumbuhan dan hewan yang dilindungi berdasarkan CITES, IUCN, serta peraturan lokal yang mengaturnya. Pengelolaan dan pemantauan Folra dan Fauna di PT. Riau Abadi Lestari dimuat dalam bentuk laporan Biodiversiti Folra dan Fauna dan laporan Monitoring HCV & HCS.

Mamallia

Aves

Flora

 

c. Pengelolaan Limbah B3

Kegiatan pembangunan HTI di PT. Riau Abadi Lestari menimbulkan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak yang terjadi akibat kegiatan ini adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Apabila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan dan mengganggu kelangsungan hidup mahluk hidup disekitarnya.BerdasarkanIzin PT. RIAU ABADI LESTARI No 660/DLH-PPK/LB3/2017/02  yang dikeluarkanoleh DLH Kabupaten Kampar dengankondisi yang ada tempat penyimpanan Limbah B3 secara permanen. Pengelolaan Limbah B3 telah diatur dalam SOP-RAL-E2-005tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

 

d. Pengelolaan dan Pemantauan NKT

Perusahaan telah melaksanakan identifikasi NKT yang dilakukan oleh konsultan APCS  (Asia Pacific Consulting Solution). Dari hasil identifikasi tersebut terdapat NKT pada areal kawasan PT. RAL. Berikut disajikan tabel hasil identifikasi NKT.

 

Tabel Hasil  Identifikasi  NKT PT. Riau Abadi Lestari


Kategori Nilai Konservasi Tinggi

Sub-kategori

Deskripsi NKT

Temuan

NKT 1 –Kawasan yang Mempunyai Tingkat Keanekaragaman Hayati yang

Penting

 

1.1

Kawasan yang Mempunyai atau Memberikan Fungsi Pendukung Keanekaragaman Hayati Bagi Kawasan Lindung dan/atau Konservasi

ADA

1.2

Spesies hampir punah

ADA

1.3

Kawasan yang Merupakan Habitat bagi Populasi Spesies yang Terancam, Penyebaran Terbatas atau Dilindungi yang Mampu Bertahan Hidup (Viable Population)

ADA

1.4

Kawasan yang Merupakan Habitat Bagi Spesies atau Sekumpulan Spesies yang Digunakan Secara Temporer

TIDAK ADA

NKT 2 Kawasan Bentang Alam yang Penting Bagi Dinamika Ekologi Secara Alami

2.1

Kawasan Bentang Alam Luas yang Memiliki Kapasitas untuk Menjaga Proses dan Dinamika Ekologi Secara Alami

TIDAK ADA

2.2

Kawasan Alam yang Berisi Dua atau Lebih Ekosistem dengan Garis Batas yang Tidak Terputus (berkesinambungan)

TIDAK ADA

2.3

Kawasan yang Mengandung Populasi dari Perwakilan Spesies Alami

TIDAK ADA

NKT 3 – Kawasan yang Mempunyai Ekosistem Langka atau Terancam Punah

3

Kawasan yang Mempunyai Ekosistem Langka atau Terancam Punah

ADA

NKT 4 – Kawasan Yang Menyediakan Jasa-jasa Lingkungan Alami

4.1

Kawasan atau Ekosistem Penting Sebagai Penyedia Air dan Pengendalian Banjir bagi Masyarakat Hilir

ADA

4.2

Kawasan yang PentingBagiPengendalianErosidanSedimentasi.

ADA

4.3

Kawasan yang Berfungsi Sebagai Sekat Alam untuk Mencegah Meluasnya Kebakaran Hutan dan Lahan

ADA

NKT 5 –Kawasan Alam yang empunyai Fungsi Penting untuk

Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal

5

KawasanAlam yang Mempunyai Fungsi Penting untuk Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal

ADA

NKT 6 – Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting Untuk Identitas Budaya Tradisional Komunitas Lokal

6

Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting Untuk Identitas Budaya Tradisional Komunitas Lokal

ADA

e. Perlindungan Hutan

Beberapa potensi gangguan terhadap kawasan hutan areal kerja adalah bahaya serangan hama dan penyakit, bahaya kebakaran hutan, bahaya pencurian kayu hutan tanaman, penebangan liar kayu alam di kawasan lindung, bahaya perburuan satwa liar yang dilindungi dan gangguan akibat tekanan terhadap lahan (konversi lahan).Berdasarkan Tata Ruang kawasan lindung HTI PT.RAL yaitu KPPN, Sempadan Sungai,DPSL  yang dilakukan Patroli oleh Security Provider. Adapun Sempadan Sungai saat ini yang berada dilokasi Sindotim seperti Sempadan Sungai Perapakan dan Sempadan Sungai Tapung Kanan.

 

1. Fire Management

Areal konsesi PT. Riau Abadi Lestari terbagi menjadi dua zona yaitu zona Mineral dan zona basah (Gambut). Potensi bahaya kebakaran hutan di areal kerja tergolong besar. Hal ini disebabkan oleh faktor iklim, kondisi lahan, dan faktor sosial. Dari faktor iklim dan kondisi lahan, walaupun secara makro areal kerja beriklim sangat basah, namun secara mikro (harian) memungkinkan kondisi kering yang beturut-turut selama beberapa hari. Hal ini cukup untuk membuat serasah dan gambut bagian atas untuk kering dan mudah terbakar.

Dari segi sosial, masyarakat yang sebagian diantaranya masih menerapkan sistem pembakaran untuk membuka lahan pada musim kemarau juga membawa potensi kebakaran. Potensi ini menjadi lebih besar lagi karena terdapat bagian areal hutan tanaman yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat. Oleh sebab itu, PT. Riau Abadi Lestari melakukan pendekatan-pendekatan secara sosial maupun secara teknis dilapangan.

PT. Riau Abadi Lestari memiliki Komitmen yang sangat serius terkait Kebakaran Hutan dan lahan, baik itu kebakaran yang terjadi didalam kawasan konsesi atau pun diluar kawasan konsesi yang diimplementasikan dalam sebuah Kebijakan Pencegahan KARHUTLA sebagai berikut:

  1. Mematuhi semua peraturan perundangan yang terkait  pencegahan kebakaran lahan dan hutan.
  2. Konsisten terhadap pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dalam semua tahapan kegiatan pembangunan hutan tanaman.
  3. Melakukan perlindungan areal konsesi perusahaan dari bahaya kebakaran untuk memastikan   keberlanjutan usaha dalam jangka panjang dan kelestarian sumber daya alam.
  1. Secara terus menerus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan peralatan untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.Secara aktif melibatkan semua karyawan, mitra kerja serta masyarakat di sekitar konsesi perusahaan untuk terus menerus melakukan pencegahan kebakaran lahan dan

Selain dari kebijakan tersebut, untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan disekitar wilayah konsesinya, ASIA PULP & PAPER (APP) dan Sinarmas Forestry merancang sebuah sistem terintegrasi yang disebut dengan Integreted Fire Management (IFM). Terdapat 4 pilar utama dalam IFM ini, yaitu:

  1. Pencegahan
  • Program DMPA : Landasan utamanya adalah dengan memanfaatkan bidang agroforestri, masyarakat diarahkan dan dibina untuk berdaya dan sejahtera secara sosial-ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya (alam dan manusia) yang sesuai dengan potensi dan karakteristik lokal.
  • Tata Kelola Air : Untuk mengurangi resiko kebakaran dilahan gambut APP dan SMF Group bekerjasama dalam memperbaiki tata kelola lahan gambut dengan cara menaikkan ketinggian air dikanal perimeter konsesi.
  • Insentif untuk Masyarakat Peduli Api (MPA) : Mengikut sertakan masyarakat sekitar konsesi HTI untuk melakukan patroli pencegahan kebakaran, selain sejumlah uang, masyarakat juga diberikan insentif berupa peralatan dan pelatihan dalam pemadaman kebakaran.
  1. Persiapan
  • Incident Command System (ICS) : Merupakan perangkat/sistem yang mengatur garis komando, perencanaan, operasi, logistik, dan administrasi dalam sebuah situasi darurat.
  • Situation Room Center (SRC) : Ruang kontrol yang melakukan deteksi dini kebakaran secara real time 24 jam non-stop diwilayah konsesi SMF Group melalui pengolahan data dari citra satelit yang diverifikasi oleh petugas lapangan.
  • Pemetaan Jalur Patroli : Intensitas patroli disesuaikan dengan informasi tentang potensi kebakaran dari situation room dan panduan FDRS dari gabungan data cuaca, angin, dan kelembaban udara.
  • Kesiagaan RPK : Sebanyak 2700 personel RPK yang telah tersertifikasi Manggala Agni senantiasa bersiaga di 266 pos pantau, tim RPK juga dilengkapi dengan 500 unitmobil patroli, 160 unit mobil pemadam kebakaran, dan 1150 unit pompa air.
  1. Deteksi Dini
  • Deteksi Wilayah Kebakaran : Deteksi dilakukan oleh tiap distrik diwilayah konsesi berdasarkan informasi yang didistribusikan oleh Situation Room. Hal ini untuk memastikan apakah hotspot tersebut adalah titi apai atau bukan, maka petugas mengecek langsung kelapangan.
  • Citra Thermal : Alat ini digunakan untuk mendeteksi titik titik api dilahan gambut. Bekerja dengan menangkap perbedaan suhu ekstrim dipermukan tanah. Begitu panas terdeteksi, maka sistem akan mengirimkan data real yang kemudian disatukan dalam petak konsesi sehingga lokasi titik apai akan langsung terlihat disistem.
  • Pemantauan dari Ketinggian : Dilakukan melalui Menara Api yang tersebar di 80 titik dengan ketinggian kurang lenih 30 meter.
  1. Respon Cepat
  • Komando dan Kontrol : Manajemen terpadu dalam menghadapi situasi darurat, dari mulai pihak Situation Room, Logistik peralatan, petugas RPK dilapangan, semua bergerak mengikuti garis komando yang telah ditetapkan.
  • RPK : Tim RPK secara intensif akan melakukan upaya pemadaman secara bergantian tanpa mengenal libur. Jika lokasi sulit dijangkau melalui jalan darat, akan dikirimkan tim pemadam kebakaran menggunakan helikopter.
  • Helikopter Water-boombing : Untuk menjangkau wilayah yang lebih sulit secara geografis, disediakan helikopter biasa 3 unt, dan helikopter besar jenis Super Puma 3 Unit untuk melakukan Water-boombing diareal kebakaran.

 

Kelola Sosial

Potensi dan Kondisi Desa 

Secara umum desa-desa yang ada didalam dan sekitar operasional perusahaan memiliki potensi untuk dikembangkan terutama pada sektor pertanian, perkebunan dan hutan tanaman industri. Sumber penghasilan masyarakat desa berasal dari pertanian, perikanan, nelayan dan pengambilan hasil hutan. Komoditi yang banyak dibudidayakan masyarakat adalah tanaman padi, hortikultura dan tanaman perkebunan (karet dan sawit). Masyarakat tempatan lebih tertarik pada tanaman karet karena telah dikenal dan dikembangkan secara turun temurun. Sedangkan tanaman sawit lebih banyak dikembangkan oleh masyarakat pendatang.

Pemberdayaan masyarakat disekitar PT. Riau Abadi Lestari bahwa Desa binaan meliputi : (1) Desa Serai Wangi, (2) Bencah Kelubi, (3) Rantau Bertuah, (4) Mandiangin. Program pembinaan masyarakat desa hutan masih difokuskan pada jenis kegiatan sosial budaya, peningkatan SDM, pertanian, pendidikan, keagamaan, dan sarana prasarana desa.

Rencana Pemberdayaan Masyarakat


A. Program Training Centre dan Pertanian Terpadu

Untuk menunjang peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dibidang pertanian, telah dibangun gedung Balai Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat (BPPM) di Desa Pinang Sebatang Barat yang dilengkapi dengan sarana pendukung seperti ruang training, pendopo, mess dan areal pembibitan dan lahan percobaan dengan luas keseluruhan ± 20 ha. Balai Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat ini menjadi tempat pelatihan pertanian bagi masyarakat sekitar HTI dan kalangan pelajar/Perguruan Tinggi.

B. Program Pengembangan Hasil Hutan Non Kayu

Pengembangan hasil hutan non kayu yaitu budidaya lebah madu, dimana terdapat desa-desa sekitar HTI yang memiliki lebah madu alam (sialang) yang belum dikelolah dengan baik sehingga hasilnya tidak optimal. Perusahaan akan membantu peningkatan kwalitas lebah madu produksi masyarakat dalam hal packing, promosi dan pengembangan ternak lebah lokal.

C. Pengembangan Sentra Hortikultura dan Peternakan

Untuk peningkatan pendapatan masyarakat dan secara bertahap memotivasi minat masyarakat untuk bertani, maka perusahaan akan mengembangkan sentra-sentra produksi (pertanian, perikanan dan peternakan) didesa-desa sekitar konsesi sesuai dengan potensi yang ada.

D. Bidang Pendidikan

Perusahaan akan memberikan bantuan subsidi pendidikan dan tambahan honor guru khususnya untuk guru honorer yang mengabdi di desa-desa sekitar hutan tanaman.  Serta juga pemberian bantuan beasiswa untuk anak-anak yang kurang mampu tetapi berprestasi. Peningkatan kwalitas SDM menjadi sasaran utama perusahaan dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan pengentasan kebodohan dan keterbelakangan masyarakat desa sekitar operasional perusahaan.

E. Pembinanaan Sosial dan Budaya

F. Kegiatan Keagamaan

G. Pembangunan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur meliputi pengadaan sarana-prasarana desa dan pembangunan/perbaikan jalan, aspalisasi, jembatan, kanal, tapak bangunan dan lapangan bola kaki dengan menggunakan alat berat. Pengadaan sarana prasarana meliputipembangunan kantor desa dan peralatannya, dan lain sebagainya. 

Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan dikelompokan menjadi beberapa bidang kegiatan diantaranya, bidang ekonomi produktif, sosial budaya, keagaman, pendidikan, dan kesehatan.  Jenis kegiatan yang dilaksanakan didasarkan pada identifikasi permasalahan dan kebutuhan pengembangan bersama masyarakat desa binaan.

Pola pembinaan yang dilakukan oleh perusahan dalam kaitannya dengan program CSR digunakan beberapa pola pembinaan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat serta disepakati antara perusahaan dengan masyarakat. Pola pembinaan yang biasa dilakukan antara lain  berupa bantuan murni/hibah/charity. Sementara untuk kegiatan ekonomi & usaha produktif  biasanya diberlakukan pola pembinaan sistem kemitraan/kerjasama dan pola modal bergulir

Program pemberdayaan yang juga dikembangkan oleh perusahaan adalah Program DMPA (Desa Makmur Peduli Api) yang mengedepankan kolabrorasi dari berbagai pemangku kepentingan, antara lain masyarakat, perusahaan, pemerintah setempat, lembaga desa (Bumdes) dan juga akademisi.

Program Desa Mandiri Peduli Api (DMPA) ini sebagai insentif bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam penanggualangan kebakaran hutan dan lahan.Dengan demikian diharapkan kelompok-kelompok masyarakat di sekitar hutan terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam penanggulangan kebakaran hutan dan sekalus upaya-upaya peningkatan kesejahteraan mereka melalui berbagai program dan kesempatan yang tersedia di perusahaan.

Terkait dengan upaya-upaya resolusi konflik dan benturan dengan kelompok masyarakat, perusahaan mengutamakan penyelesaian melalui pendekatan persuasif, menghindari kekerasan, dan sedapat mungkin mengakomodasi dan/atau memberikan kompensasi kepada masyarakat sesuai dengan kesepakatan antara perusahaan dengan masyarakat. Dalam hal upaya penyelesaian secara persuasif tidak dapat diterima oleh masyarakat maka akan dilakukan alternative pendekatan lain danterutama untuk konflik spekulan tidak menutup kemungkinan penggunaan pendekatan legal formal sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.